Saturday, March 12, 2016

Ragam Rasa dan Cerita Secangkir Kopi



Dalam secangkir kopi terdapat sejuta cerita. Rasa yang tersaji dalam setiap lekuk cangkir kopi menawarkan berbagai cerita yang berbeda-beda. Di Indonesia sendiri, kopi bukanlah barang baru. Masyarakat Indonesia telah terbiasa mengonsumsi kopi sejak lama.

Budaya meminum kopi sudah ada di berbagai daerah di Indonesia. Budaya minum kopi di Belitung misalnya, kedai kopi di sana selalu ramai meski warungnya kecil. Kedai kopi menjadi sarana pertukaran informasi dan bersosialisasi.

Seto Nurseto, Antopolog Makanan dan Kebudayaan lulusan Universitas Padjadjaran mengatakan, sebenarnya kopi pertama kali di bawa ke Indonesia oleh Belanda. Kopi sendiri sebenarnya datang dari Afrika.

“Kebiasaan minum kopi sudah ada sejak kolonial membawa kopi ke indonesia. Aslinya, kopi tanaman afrika, dibawa ke sini oleh Belanda. Kebun kopi, kebun karet, kebun teh, itu belanda,” jelasnya.

Seto menjelaskan, pada masa kolonial penjajah membawa kopi arabica dan menyisakan kopi robusta untuk masyarakat Indonesia. Maka tak heran, kopi-kopi tradisional di Indonesia menggunakan kopi robusta. Contohnya kopi Aceh, Pontianak, dan Belitung, semua menggunakan robusta.

Tiap-tiap kebudayaan minum kopi punya cara penyajian yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut bergantung pada karakteristik budayanya masing-masing. Cara penyajian kopi yang umum ditemui di Indonesia, terutama di pulau Jawa, adalah dengan cara tubruk.

Beda lagi dengan Aceh yang terkenal dengan kopi tariknya. Penyajiannya menggunakan saringan panjang seperti kaus kaki. Mirip dengan kopi pancung di Pontianak, bedanya saringan yang digunakan di Aceh lebih panjang.

Dengan perkembangan teknologi dan informasi, kopi mulai mengalami perubahan di mata masyarakat Indonesia. Dari konsep kedai kopi hingga cara meminumnya pun mulai berubah. Masyarakat tidak lagi hanya mengonsumsi kopi robusta dengan proses penyajian yang sederhana.

Saat ini, orang sudah mulai mengenal beragam cara penyajian kopi yang berasal dari luar negeri. Tak sedikit orang yang sudah tidak canggung meminum secangkir espresso atau capucinno. Orang-orang mulai melirik kedai kopi modern, tak lagi kedai kopi tradisional.

“Karena mulai tren dunia di tahun 2010-an lah, orang-orang mulai mengenal kopi. Dulunya cuma kopi tubruk di indonesia, kopi, air panas, diaduk. Kemudian, orang mulai kenal espresso, french press, mocca pot, V60. Sebenarnya, itu yang membuat coffee shop saat ini jadi menarik,” jelas Seto.

Tren kedai kopi modern mulai menjamur di Indonesia saat ini, tak terkecuali untuk daerah Bandung. Beragam kedai kopi yang menawarkan cara penyajian kopi modern mulai membanjiri dunia usaha kuliner Bandung.

KOPI PANCUNG PONTIANAK

Made Mahardika menyajikan kopi pancung di kedai Ngopilok.

Meski kedai kopi modern mulai mendominasi, tak berarti kedai kopi tradisional terpental dari dunia usaha kopi. Masih ada kedai kopi tradisional yang menawarkan suasana sederhana di Bandung.

Salah satunya adalah kedai kopi Ngopilok yang berlokasi di Jl. Surapati No. 235 Bandung. Kedai kopi ini menyajikan kopi pancung khas Pontianak. Ukuran kedainya memang tidak besar, tapi kedai kopi ini mampu membayarkan  rasa rindu pengunjung akan kopi pancung.

Teko berwarna keemasan berbahan tembaga dengan leher panjang duduk nyaman di atas dandang  yang berisi air mendidih. Di dalam teko, terdapat kopi robusta yang tengah dihangatkan. Hingga pesanan datang, kopi akan tetap hangat di dalam teko tersebut.

Ketika dikucurkan, aroma kopi robusta asli pontianak langsung masuk ke hidung. Kopi berwarna hitam kemerahan itu seakan tak sabar ingin segera melewati kerongkongan. Disajikan dalam cangkir besi kecil, kopi pancung siap menggoyang indra perasa.

Rasa pahitnya mendominasi mulut, seperti robusta pada umumnya. Bagi yang suka rasa manis, bisa tambahkan gula secukupnya. Tapi untuk menikmati rasa asli kopinya, pemakaian gula tidak disarankan. Citarasa sesungguhnya akan muncul saat kopi tidak dicampur apapun.

Ukuran cangkir kopi pancung  yang kecil rupanya punya cerita sendiri. Made Mahardika, pemilik kedai kopi Ngopilok bercerita dulunya kopi pancung dibuat untuk para buruh. Karena harganya yang mahal, ukurannya dipangkas menjadi setengah agar bisa dibeli para buruh.

“Penjual kopi yang mayoritas orang tionghoa waktu itu, nah mereka inisiatif memangkas si ukuran penyajian asli jadi setengah. Supaya si buruh bisa menikmati kopi, dengan murah,” kata Made.

Kecintaan dan rasa rindu terhadap suasana minum kopi pancung di pontianak mendorongnya membuat kedai kopi di Bandung. Suasana dengan secangkir kopi yang menemani sampai pagi menjelang. Tanpa sekat golongan sosial dan internet yang memisahkan.

“Orang harusnya bisa ngopi murah, sekalian bisa ngobrol, bisa tukar pikiran, tukar informasi. DI pontianak itu dari pejabat sampe orang biasa duduk di satu warung kopi, gak ada batasan siapa yang kaya dan siapa yang miskin, saling tukar informasi ketika udah satu meja dan satu ada kopi semua sama,” tutur pria lulusan Universitas Padjadjaran ini.

Secangkir kopi pancung dihargai Rp5.000, bila mau menggunakan susu anda cukup menambah Rp2.000. Kopi pancung cocok untuk jadi teman mengobrol bersama teman-teman semalaman. Karakter robusta yang tidak berubah rasanya meski sudah didiamkan lama menjadi alasannya.

“Robusta, mau dia baru dibikin, mau dua jam, tiga jam setelahnya, rasanya tetep sama, tidak ada waktu maksimal seperti arabica,” tambah pria yang memulai usahanya sejak September 2015 itu.

KOPI GAYO ACEH

Saputra Ekonadi (putra) sedang melakukan pemanggangan biji kopi di Red Long Gayo Coffee.


Selain Pontianak, beberapa daerah lain seperti Wamena, Aceh, dan Toraja juga terkenal dengan kopinya. Aceh selain terkenal dengan kopi saringnya, juga terkenal karena biji kopi khasnya. Salah satu kopi terkenal dari aceh adalah kopi Gayo.

Kopi Gayo adalah kopi Arabica yang dihasilkan dari perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Tingginya berada di antara 1.000-1.700 di atas permukaan laut. Citarasanya yang khas membuatnya dikenal bangsa Eropa sejak dulu.

Di Bandung ada juga kedai kopi yang menggunakan kopi Gayo. Namanya kedai kopi Red Long Gayo Coffee. Berlokasi di Jl. Teuku Umar No. 1/60, Sekeloa, Coblong, Bandung. Kedai Red Long menggunakan kopi specialty dari Gayo, Aceh.

Saputra Ekonadi (Putra) pemilik kedai kopi Red Long mengatakan, kopi yang ia gunakan dipetik langsung dari kebun keluarganya di Gayo. Kopi Red Long sendiri medapat nilai cupping test di atas 85 dari SCEAE (Specialty Coffee Association of Europe).

Red Long Gayo Coffe menyajikan kopi dengan cara penyajian yang beragam, dari mulai tubruk, espresso, hingga drip v60. Semua sajian kopinya menggunakan kopi Arabica dari Gayo. Tak hanya itu, Red Long juga menjual kopi dalam bentuk green bean, dan bubuk kopi.

Di kedai kopi ini juga terdapat mesin roasting yang bisa membuat anda melihat langsung proses pemanggangan kopi. Saat proses pemanggangan dimulai, seisi ruangan langsung dipenuhi aroma kopi yang kuat. Suasana yang semakin menambah gairah meminum kopi.

Secangkir kopi Red Long bisa membuat anda ketagihan. Kopi yang disajikan dengan metode drip V60 dari mereka misalnya, tak akan membuat anda berhenti pada tuangan pertama. Rasanya yang tebal saat memasuki mulut memberi sebuah kenikmatan tersendiri.

“Ini V60, pakai filter, kalau ketagihan saya gak tanggung jawab ya,” kelakar pria yang juga seorang musisi metal ini.

Ketika mulai diseruput, seisi mulut langsung dipenuhi dengan rasa asam dari khas kopi arabica. Menyenangkan membiarkan kopi tersebut melewati tiap lekuk mulut. Setelah melewati tenggorokan, rasa pahit yang pas langsung tertinggal di pangkal lidah. Tak ada rasa lengket yang tertinggal di tenggorokan.

Rasa kopi gayo yang khas tersebut diakui Putra, didapatkan dari proses pengolahan kopinya. Dari mulai dipetik di kebun hingga ditungkan ke cangkir, semua harus dilakukan dengan baik.

“Pemetikan, pick up, fermentasi, pulping, fermentasi, cooling, baru proses penjemurannya bagaimana, jadi tidak asal jemur di lantai, ada aturannya,” jelas pria yang dalam sehari mengaku bisa meminum 15-20 gelas kopi dalam sehari tersebut.

Rasa Kopi Gayo yang nikmat dipercaya muncul karena dipetik dari perkebunan di dataran tinggi. Jika anda berkunjung ke dataran tinggi Gayo, sejauh mata memandang anda akan menemukan kebun kopi di mana-mana.

KOPI JAWA BARAT



Tak hanya Aceh yang punya dataran tinggi penghasil kopi. Di Jawa Barat sendiri juga banyak perkebunan kopi di dataran tinggi yang tersebar di berbagai daerah seperti Subang, Pengalengan, Garut dan Sumedang. Dalam beberapa tahun terakhir kualitas kopi Jawa Barat memang mulai diakui, harganya pun mulai melonjak.

Kualitas kopi Jawa Barat yang mulai diakui juga membuat pengusaha kopi lokal mulai melirik mereka. Seperti halnya kedai kopi Morning Glory Coffee. Morning Glory Coffee yang sampai saat ini sudah punya delapan cabang, selalu menggunakan kopi dari tanah Jawa barat.

Morning Glory Coffee sendiri ternyata bukan pemain baru di dunia kopi Jawa Barat. Pemiliki Morning Glory Coffee bernama Natanael Charis ternyata adalah salah satu orang pertama yang berusaha mendongkrak kualitas kopi Jawa Barat.

Dulunya Nael, sapaan akrabnya, berprofesi sebagai fotografer. Ia mengaku dulunya ia bukan peminum kopi, barulah saat ia berkunjung ke Eropa ia mulai jatuh cinta pada kopi. Sepanjang 2002 sampai 2006 ia mulai mendalami dunia kopi di luar negeri, di Italia dan Australia.

Tahun 2004 ia benar-benar meninggalkan dunia fotografi, dan semakin serius dengan kopi. Setelah merasa memiliki pengetahuan yang cukup soal kopi. Pada tahun 2006 ia mencoba mengedukasi petani di daerah Jawa Barat. Perlu waktu dua tahun sampai akhirnya para petani mau mendengarkannya.

Pada tahun 2008, ia bersama Dinas Perkebunan mulai mengedukasi para petani di daerah Pengalengan. Ia mengakui saat pertama kali ia datang, kualitas kopi di sana sangat buruk. Perubahan mulai terasa setelah ia mulai mengajarkan ilmu yang ia punya kepada petani kopi di sana.

“Kita ajarin, kasih knowledge, kita kasih workshop, kasih tahu cara berkebun yang benar, setelah petik harus seperti apa,” ujar pria yang punya sertifikat Authorized Trainer dari SCAE.

“tahun 2009 mereka mulai ekspor ke Australia, terakhir mereka bisa ekspor itu tahun 1924. Tahun 2008 Rp18.000, 2009 naik dua kali lipat jadi Rp38.500, dan sekarang di sana kopi paling murah itu harganya Rp70.000 satu kilogram,” tambahnya.

Morning Glory Coffee sampai saat ini hanya menggunakan kopi Jawa Barat. Nael beralasan, dengan cara seperti itu, tiap kali ada gerai baru yang dibuka, dia telah menolong satu petani kopi baru di Jawa Barat. Ciri khas kopi di Jawa Barat sendiri kuat dengan rasa asam buah-buahan tropisnya.

“Ini kopi yang sedang kita gunakan kopinya dari Subang, rasanya lebih ke fruitty,” ujarnya saat ditemui ditengah-tengah soft launching Morning Glori Coffee Kesatriaan di Jl. Kesatriaan No. 14 Bandung.

Secangkir espresso yang disajikan di Morning Glory Coffee sangat kuat dengan rasa buah-buahan. Begitu dihirup, aroma asam buah tropis dan dark chocolate langsung menyeruak ke dalam hidung. Dalam sesapan pertama rasa asam nanas yang dominan langsung memenuhi mulut, diikuti rasa dark chocolate yang muncul belakangan.

Rasa unik dari setiap cangkir kopi tak lepas dari semua proses yang dilaluinya. Nael mengatakan seorang barista harus mengenal kopinya dengan baik, bahkan dari mulai proses di kebun. Kemudian barista harus paham langkah dalam proses selanjutnya agar rasa terbaik dari kopi bisa muncul.

“Buat saya, kopi itu seperti selembar kertas kosong. Saat lihat kebun kopi, saya langsung apa yang harus dilakukan dengan kopinya. Setelah cicip, langsung berpikir bisa dibagaimakanan kopinya. Langsung kasih tau petani soal pupuknya, terusnya metiknya, kemudian komunikasi juga dengan roaster,” jelas pria penyuka espresso tersebut.

“Barista, dia harus belajar, kaya penikmat, di harus tahu, kasar atau halusnya, berapa lama, berapa tekanan, saya bisa bikin tastenya lebih pait, lebih asem, bisa lebih kaya teh,” tambahnya.


Sejak pertama kali buka di tahun 2004, Morning Glory Coffe sudah punya 8 kedai yang tersebar di Jakarta (Pondok Indah Mall), Medan, dan Bandung. Selain kedai kopi, sejak tahun 2012, Nael juga mulai membuka Morning Glory Academy di Setrasari Mall, Jl. Surya Sumantri, Bandung.

Wednesday, February 3, 2016

Kalender Daging Ayam

Hari ini aku tak pulang malam, aku pikir setoran beritaku hari ini sudah cukup buat gaji bulan depan. Beberapa teman bantu aku hari ini dengan kiriman tulisan mereka. Cukup untuk penuhi target 5 berita satu hari.

Semua orang baik hari ini, aku terbantu oleh mereka. Tapi  Mas Hendro yang paling baik. Dia beri aku Rp50.000. Lumayan buat isi bensin motor kreditan yang tinggal satu garis.

Aku dan Mas Hendro sebenarnya bekerja di media yang sama, hanya beda nasib saja. Dia rajin cari iklan, aku tidak. Bukan tidak rajin, tapi aku rasa aku tidak bisa cari iklan.

Aku pikir kalau aku disuruh menjual pelet ikan ke peternak ikan yang sedang butuh saja aku tak bisa. Akan seperti berjualan pelet ikan ke peternak sapi. Sulit sekali.

Media tempatku bekerja bolehkan wartawan kontributor mencari iklan. Sebagai tambahan pemasukan katanya. Brengsek memang si empunya ini media, dia lacurkan profesiku dengan mengharuskan aku berjualan iklan.

Meskipun dia bilang wartawan cuma buka jalan, yang maju nanti orang marketing, tetap  saja buat aku yang tidak bisa cari iklan, ini menyulitkan. Ah sudahlah, rejeki sudah ada yang atur.

Ngomong-ngomong soal Mas Hendro, dia juga bukan wartawan yang hebat-hebat amat sebenarnya. Dia dulu bekerja di media yang tak jauh beda dengan aku, sama-sama dapat uang dibawah UMR. Untungnya, dia punya istri yang anak Camat. Tak perlu kerja juga sudah pasti kena ciprat uang terus.

Karena dia kaya, dia sering kasih duit ke wartawan lain. Makanya mereka semua manut sama dia. Kadang dia gak perlu ke lapangan, tapi dapat berita sampai tiga halaman. Si brengsek ini memang beruntung.

Oiya, si Hendro ini dulu pernah gabung semacam organisasi wartawan idealis. Tapi semenjak kenal jualan iklan, dan ternyata dia berbakat, dia ditendang dari sana. Mungkin mengotori idealisme mereka. Padahal, di lapangan mereka  sering minta kena basah juga.

Sebelum pulang, redakturku si Surya bilang, “Kalau dapat lagi, bagi dua lagi ya.” Si bangsat memang, selalu mau kena basah, padahal gajinya sebulan sudah kena Rp9 juta. Masih saja ganggu rejeki orang.

Kemarin aku memang baru dapat duit gede. Gak sengaja ketemu pak Alfred, pengusaha batu bara dari Cirebon. Dia kasih aku Rp10 juta. Padahal niatnya mau coba tawarkan iklan disuruh si Surya, eh dia bilang, “Saya gak perlu iklan, produk saya gak perlu iklan, ambil aja ini kamu, saya tahu kamu butuh.”

Dia memang turunan cina kaya, tapi untungnya dia baik sama aku. Gara-gara dulu pernah aku tahan berita soal pajaknya dia yang nunggak besar. Tapi, uang sebanyak itu aku tak sanggup pegang. Takut dosanya, kalau hanya seratus dua ratus pasti aku ambil.

Aku bawa saja uang itu ke kantor. Aku bilang ke Kepala Biroku, aku dapat uang tapi tak mau simpan uang itu, terlalu besar, aku tak mau. Eh, dia malah bilang, “Ah kamu ini, jadi orang jujur-jujur amat sih.” Aku heran dengan si bos ini, dia bilang jadi wartawan harus idealis, tapi kalau sudah begini dia jadi materialistis.

“Yasudah kalau tak mau, aku pakai untuk operasional kantor saja ya, ini ambil saja lah buat kamu,” katanya sambil sodorkan uang Rp3 juta ke padaku. Ya sudahlah, uang segitu tak gede-gede amat, pasti Tuhan juga paham.

Nah ini, baru saja aku mau pakai uang itu untuk bayar ini itu, eh si setan Surya telpon.

“Dapet berapa jadinya dari si Alfred? Jadi kan bagi setengah-setengah?”

Ingin aku pacul muka si Surya. Tak ada janji apa-apa, tau-tau minta. Tapi mau bagaimana lagi, kalau gak dikasih nanti dia berulah. Kalau sudah berulah, tulisanku sering jadi korban. Pasti tak akan dikirim ke Jakarta, bahkan dibacapun tidak.

Akhirnya aku cuma ambil Rp1,5 juta. Biarlah, rejeki sudah ada yang atur. Itupun habis untuk kenyangkan orang bank yang minta aku buru-buru bayar cicilan rumah.

Dunia ini memang gila, dan yang lebih gila ya memang aku. Kenapa aku mau-maunya jadi kontributor di biro daerah seperti ini. Gaji kecil, tak ada tunjangan, kalau sakit aku yang tanggung, duit cekak. Yah, aku mungkin berada di urutan teratas orang bodoh di dunia.

Tapi aku masih untung tak sebodoh si Yusuf. Dia penjilat yang selalu gagal. Dia si bangsat lainnya dengan muka dua. Selalu ingin terlihat baik di depan si bos, tapi omongannya di belakang sudah sampai ke tiap-tiap telinga orang di kantor.

Kadang-kadang aku kasihan sama dia. Baru cerai, tak punya rumah, ah kasihan lah pokoknya. Belum lagi di kantor, tak ada yang mau ngobrol dengan dia. Habisnya, mulutnya itu, aduh, ingin kusumbat dengan botol kecap kalau bisa. Selalu ingin adu domba orang. Kalau ada lowongan panitia adu bagong di kampungku, ingin aku daftarkan dia.

Ah tampaknya aku terlalu banyak bercerita soal orang. Lama-lama aku bisa jadi seperti si Yusuf. Intinya aku ini wartawan kontributor daerah, yang tak cakap jual iklan. Kalau mau dikatai bodoh, ya memang bodoh. Di era seperti ini jadi kontributor tapi tak bisa jual iklan tak ubahnya jadi pelacur tapi tak punya kemaluan.

Sudah cukup ah bicarakan orang terus. Aku ingin cepat pulang hari ini. Istriku dan anak pertamaku yang baru mau satu setengah tahun sudah menungguku. Aku ingin segera makan bersama mereka. Aku sudah bawa makanan untuk keluarga kecilku.

Dari Rp50 ribu tadi, aku beli bensin dua liter, cukup lah sampai besok. Aku juga tadi beli pulsa Rp25 ribu, gara-gara si kepala bank itu minta ditelpon. Karena dia ngiklan ya, aku mau tak mau harus telpon. Kalau tidak, si bos bisa marah. Sisa Rp10 ribu, cukup lah buat besok.

Sudah hampir jam 5 sore, aku tinggal beberapa langkah dari pintu rumahku. Tak sabar aku ingin segera bertemu mereka dan makan bersama.

Ah, hari ini aku ingin buat sedikit kejutan, aku tak langsung buka pintu. Aku biasanya pulang larut malam, tapi hari ini aku pulang cepat, mereka pasti terkejut, pasti senang.

Rupanya aku yang kena kejutan. Baru mengintip sebentar, aku langsung lemas. Aku merasa tak punya muka untuk pulang sebagai bapak. Ah, aku benar-benar malu. Aku sedih, aku ingin menangis sejadi-jadinya.

“Ayam... Ma mau makangayam...”

Anakku yang belum jelas bicaranya, mengatakan sesuatu yang jujur dari mulutnya. Ia ingin makan ayam. Iya, hanya itu. Dia ingin daging untuk perutnya, sementara yang aku bawa hanya gorengan dalam kantung kresek hitam.

Anakku terus bilang “ayam” sembari menunjuk gambar orang makan ayam di kalender. Aku ini bapak, tapi aku memalukan. Aku tak sanggup beri apa yang anakku mau. Sepotong daging ayam pun aku tak sanggup. Ya Tuhan, aku malu.

Aku bergegas pergi, cari warung nasi. Aku ingin daging ayam untuk anakku. Aku tak mau anakku makan nasi dengan gorengan hari ini. Tak apa aku makan itu, tapi anakku tidak boleh. Setidaknya untuk kali ini, selagi bisa. Masih ada sedikit duit dari Mas Hendro.

“Bu, ayam goreng satu, dibungkus”

“Rp8 ribu mas”

“Ah mahal banget bu, biasa kan Rp7 ribu”

“Masnya wartawan masa gak tau harga ayam naik terus, sekarang sekilo aja Rp41 ribu!”

“Gak ada utang-utangan buat mas ah, yang kemaren aja belum dibayar”

“Ini cuma ada Rp6 ribu bu, serebu lagi besok deh, bener saya janji,”

“Iya sehari dua ribu, sebulan udah tiga puluh, mau sampe berapa utang baru dibayar?”

“Sekarang doang bu, gak lagi-lagi nanti, ini cuma seribu,”

Ini gara-gara impor jagung dilarang sama orang bego. Harga ayam jadi mahal, aku yang susah. Meski memang biasanya tak beli ayam, tapi kali ini bikin tambah sulit urusanku. Padahal cuma ingin anakku makan ayam. Ah bangsat memang!

Si ibu warung nasi itu memang pelit. Padahal bapakku dulu yang nolong usahanya. Ah, sudahlah, toh akhirnya dia mau juga kasih aku hutang dua ribu. Cuma basa-basi gak mau kasih utang, toh dia juga tak ngerti-ngerti amat siapa yang berhutang dan yang tidak.

Aku berlari, buru-buru ingin kasih daging ayam untuk anakku. Semoga dia bisa senang dan lahap memakan ayam ini.

“Mana jagoan bapak? Lihat bapak bawa apa...”

Girang bukan main aku melihatnya. Meski bicaranya masih belum jelas, tapi aku yakin betul ucapannya itu penuh kegembiraan.

Istriku hanya tersenyum melihat ku. Dia tahu apa yang baru saja aku lakukan, dia pasti paham. Dia bawakan aku piring, lengkap dengan nasi panas yang masih mengepul. Oiya, piring ini pemberian Mas Hendro saat pernikahanku dulu. “Untuk bantu-bantu, siapa tau perlu,” katanya waktu itu.

Kami bertiga duduk bersama di lantai rumah. Menikmati tiap suapan kami masing-masing. Anakku makan ayam, aku dan istriku makan nasi dan gorengan. Sesekali aku tengok kalendar itu, kesal juga lihat si orang di kalender.

Karena dia, anakku jadi mau makan ayam, bukan gorengan. Kalau ada kalender dengan gambar orang makan gorengan, pasti sudah ku pasang. Tapi tak apa lah, karena dia, setidaknya anakku punya teman makan daging ayam.


Sekarang baru tanggal 20, masih ada 11 hari lagi sampai gajian. Semoga anakku tetap bisa makan daging ayam. Ya, Semoga.

Tuesday, June 30, 2015

Aku untuk Keluargaku

“Hey, ayolah! Kau tahu apa yang paling menyakitkan di dunia ini?”

“Ya! Melihatmu seperti ini!”

“Hanya merengek, mengeluh! Seakan kau tidak bisa perbaiki ini!”

“Kau pikir kau yang paling sial di sini? Semua orang sudah sial di sini,
bahkan sebelum dilahirkan!”

Pandangannya lurus ke langit-langit yang sudah menguning. Kedua tangannya bertelungkup di atas perutnya. Kedua kakinya gelisah, bergerak-gerak di bawah selimut yang tutupi setengah badannya. Adiknya terus lontarkan kata-kata pedas padanya, sembari duduk di jendela kamar dan sesekali menyesap rokoknya. Di bawah langit yang malam itu ramai dengan bintang, sang adik coba bangunkan kakaknya dengan caranya.

“Kau tahu tidak? Dulu kau adalah kakak yang paling aku banggakan. Saat aku dipukul di sekolah, aku tak pernah merasa kalah, karena aku tahu esok harinya kau akan menghajar mereka!”

“Dan apakah kau tahu? Kau selalu ku anggap sebagai orang paling sempurna setelah ayah, aku ingin bisa sebaik kau dan ayah,”

“Tapi sekarang? Lihatlah dirimu! Kau hanya mengeluh, seakan dunia begitu jahat padamu. Sakit aku harus melihat kau seperti ini, kak! Mana kau yang dulu?”

Pandangan yang sejak tadi lurus di sebuah kamar berlampu pijar itu perlahan tertutup. Dalam tarikan nafas yang dalam, tetesan air mata perlahan airi wajahnya yang kering. Nafasnya mulai tak teratur, air matanya terus mengalir. Ia sekarang terlelap dalam gelap matanya yang tertutup, seperti harapan dan masa depannya yang ia pikir telah lama mati. Seorang pria berumur 27 tahun. Menangis tanpa merintih, pilu hatinya tanpa luka, hambar hidupnya tanpa mimpi.

Pikirannya campur aduk malam itu. Ia kembali teringat akan setiap lembar hidupnya yang di luar nalar manusia normal. Tiba-tiba wajah ibunya yang entah dimana, muncul begitu saja dalam gelap matanya. Suara teman-teman sekolahnya dulu terdengar nyaring di telinganya. Mimpinya untuk menjadi seorang pilot terbenam bersama bayangan masa lalunya dalam tangisnya.

“Jangan sampai jadi sepertiku, kau harus bisa gapai mimpimu,” 

“Aku memang pesakitan,”

“Tapi tak apa lah, cukup aku saja yang jadi pesakitan di sini asal kau dan yang lainnya bisa punya hidup yang lebih baik”

Sejak ayah dan ibunya bercerai 15 tahun lalu, ia yang terlihat paling tertekan. Ia yang memang seorang pendiam, makin jadi pendiam sejak saat itu. Satu-satunya suara yang biasa ia buat semalaman hanyalah suara tangisannya. Memecah keheningan malam di rumahnya yang telah ditinggal satu orang anggota keluarganya. Tinggal ia, bapak, kakak, dan dua orang adiknya yang tersisa di rumah itu. Ibunya telah memilih untuk pergi dari rumah, setelah merasa tak cocok lagi dengan suaminya, setidaknya itulah yang anak-anaknya tahu.

Beruntung ia tidak sampai terjebak menggunakan narkoba seperti kakaknya. Beberapa kali ia hanya menonton sang kakak membakar ganja di hadapannya, ataupun memadat dengan serbuk putih yang kemudian ia tahu bernama sabu. Ia tetap menjadi anak yang soleh dan pendiam seperti ayahnya, namun ia justru menjadi seorang yang terlalu pendiam. Sejak ditinggal ibunya ia bingung dengan hidupnya, ia tak tahu lagi harus hidup menjadi apa. Semua mimpi-mimpinya hanya ia dan ibunya yang tahu.

“Ibu telah merampas mimpi-mimpiku! Ia tak pernah kembali dan mengajakku mengejar kembali mimpiku itu!”

Ia sangat dekat dengan ibunya. Semua hal yang ia anggap rahasia hanya akan ia beri tahu pada ibunya. CIta-citanya menjadi seorang pilot hanya ia beri tahu pada ibunya, dan ia meminta ibunya untuk berhati-hati, jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang cita-citanya.

“Bu, ini rahasia ya bu. Aku hanya ingin ibu yang tahu, aku mau mengajak yang lainnya juga nanti. Tapi jangan sampai yang lain tahu, aku ingin jadi kejutan untuk semuanya nantinya. Janji tidak bilang siapapun ya, bu!”

Ia juga punya celengan yang sejak kecil selalu ia bawa kemana-mana. Ia menabung setiap harinya, dia berharap bisa membeli pesawat terbang dengan itu. Sejak ibunya pergi, ia tak lagi menabung. Uang recehan yang terkumpul di celengannya perlahan dirogoh oleh kakaknya. Bukan tidak mau marah, tapi ia tidak pernah merasa punya keperluan dan kepentingan lagi dengan uang. Ia tak lagi punya mimpi untuk membeli pesawat.

“Sejak kecil aku memang sudah seperti ini, selalu mengalah,”

“Aku tahu, aku terlihat bodoh dan tak berguna. Tapi ini lah aku bagi keluarga ini,”

“Membuat diriku tak berguna, agar yang lain setidaknya terlihat masih berguna”

Bicaranya malam itu memang terdengar agak melankolis, tapi begitulah kehidupannya, benar-benar sepilu itu. Selama bersekolah hingga kuliah, hingga akhirnya sekarang ia bekerja mencari uang sebisanya, ia tak pernah merasakan nikmat dari rupiah yang ia hasilkan. Ia selalu jadi penambal kondisi ekonomi keluarganya. Kakaknya yang lebih tua tak jarang didahulukan keinginannya oleh Ayahnya. Ia seperti koperasi simpan pinjam untuk keluarganya, bedanya, jarang sekali pinjaman tersebut diganti.

Begitulah dia, bukan dia tak mau bermimpi. Tapi mimpi tak pernah terasa nyata baginya. Hanya pahit dan getirnya hidup yang ia anggap nyata seumur hidupnya. Saat ia mendapat rejeki lebih, keluarganya butuh lebih. Ayahnya? Bukan tak ingin membantu, tapi ia juga hadapi dilema yang tak kalah berat. Istri barunya mengganjal usahanya bahagiakan anak-anaknya.

Ia sering dipusingkan dengan nasib kedua adiknya yang masih berkuliah. Ia sebagai kakak, tentu punya kewajiban untuk membantu adik-adiknya berkuliah. Akan tetapi, ia juga sudah seharusnya menabung dan mulai merajut kehidupannya sendiri. Ia sudah 27 tahun, dan sudah berpacaran lebih dari 7 tahun tapi ia tak sanggup mengajak kekasihnya ke pelaminan karena biaya. Hal yang jadi tambah berat adalah ketika ia juga harus membantu kakaknya yang tertatih-tatih mencari uang untuk keluarganya. 

Sebetulnya ia bisa saja menikah menggunakan uang orang tuanya dan berbagai pinjaman yang mungkin ia lakukan, seperti apa yang kakaknya lakukan 3 tahun lalu. Tapi ia tak mau seperti itu, ia bahkanterlalu sibuk memikirkan keluarganya dibanding memikirkan hal semacam itu. Benar-benar terbatas hidupnya, setiap cucuran keringat yang ia keluarkan adalah murni untuk keluarganya semata.

Apa ia memilih menjadi seperti ini? Tidak, jelas tidak. Tapi dunia yang memilihnya menjadi seperti itu. Keadaan yang memaksa ia menutup matanya, mengakhiri mimpinya. Pria itu kini tak lagi merasa ia adalah pemeran utama dalam hidupnya, ia rasa ia hanyalah pemeran pembantu di kisah hidup orang lain. Tak pernah diperhatikan, tapi tak diperbolehkan pergi untuk sekadar perhatikan dirinya.

“Sudahlah, kau memang sudah terlanjur bebal”

“Dengarkan aku! Lihat ayahmu, berapa usianya? 60 tahun! Dan ia tetap coba hadapi masalah hidupnya!”

“Kau? Setengahnya usia ayah saja tidak! Tapi kau bersikap seolah sudah dua kali lebih tua darinya!”

“Dengar! ini belum berakhir, kak! Setidaknya kau masih punya 43 tahun untuk pastikan kau bisa lebih baik dari ayah!”




“Kau blang apa tadi!?”

Tuesday, July 8, 2014

Aku Pergi Terawih Saja

Emak sedang sibuk di Rumah, memandikan adikku yang baru satu tahun menjejakkan kakinya di muka bumi ini. Aku baru saja menghabiskan kolak yang kubeli di dekat kerumunan muda-mudi usia 18 sampai 20-an yang mengaku mahasiswa. Meski tak manis-manis amat, tapi cukup untuk menemaniku berbuka puasa petang ini, sambil menguping sedikit suara televisi dari tetanggaku yang beradu nyaring dengan gemuruh suara adzan.

"mak emam sareng naon ayeuna? (mak, makan apa kita hari ini?)" tanyaku pada emak yang masih membasuh tubuh adikku perlahan. "Sakedap a, antosan... Beres ngaibakan si adik engke urang emam sasarengan nyak, sok aa solat ka masjid heula ayeuna mah, (Beres memandikan adik, nanti kita makan bersama ya, sekarang kakak solat ke masjid dulu saja,)" jawab emak dengan nadanya yang halus dan lemah lembut padaku. Tanpa sepatah katapun kulangkahkan kakiku menuju masjid kecil yang berada di pelataran lahan kosong depan tulisan "UNIVERSITAS PADJADJARAN" berwarna oranye yang berdiri megah di sisi kiri jalanan tempat tinggalku.

"Sepi sekali masjidku, hanya apa hanya sedikit orang yang mau menunaikan sholat berjamaah di Masjid saat ini" pikirku dalam hati. Apa mungkin masjidku ini kurang besar untuk menampung orang-orang yang berseliweran dengan titel mahasiswa itu, tak apa yang penting masjid ini masih cukup besar untukku, lagi pula apa untungnya memikirkan mereka yang tak mau ikut mengadu dan berdoa pada Tuhan yang sama secara bersama-sama. Hanya ada Pak Ustadz, aku dan dua orang yang ikut sholat berjamaah, sekali lagi tak apa yang penting aku khusyuk ibadah petang ini.

Selesainya aku sholat maghrib dan memanjatkan doa-doa yang ku hafal dari sekolah agamaku, aku pun berlari pulang ke rumah. Pasti ada makanan yang menunggu untuk ku santap habis di sana. "Hayu mak urang emam... (Ayo mak, kita makan...)" ajakku pada emak yang sedang menggendong adikku dengan kain yang sama saat ku dulu juga butuh naik di gendongannya untuk tidur. "Teu acan aya nanaon aa kasep, emak teu acan masak, sakedap nyak antosan (Belum ada apa-apa kak, emak belum masak tunggu sebentar lagi ya kak,)" jawab emak padaku dengan nada lirih. Oke, baiklah aku tak punya jawaban yang tepat untuk menanggapi jawaban emakku, dari pada mengeluarkan kata yang buruk seperti apa yang kusaksikan dalam debat capres beberapa waktu lalu melalui jendela rumah tetanggaku.

"Aa ngaos heula atuh nyak mak, sabari ngantosan emak masak, (kaka ngaji dulu kalau begitu ya bu, sambil nunggu ibu masak,)" jawabku pada emak yang dibalasnya dengan senyum bangga padaku ala ibu-ibu di iklan susu SGM. Akupun mulai mengaji, melanjutkan ayat yang kubaca setelah shalat ashar tadi. Semangatku untuk membaca hatam ayat-ayat yang tertulis di Mushaf Al-Quran membuat waktu tak terasa begitu cepatnya berlalu hingga seruan untuk menunaikan solat isya berkumandang. Memang tak terasa, sampai-sampai tak terasa ada bau makanan yang hadir atau tidak.

Aku yang mulai kelaparan akhirnya menutup bacaan Mushaf Al-Quran dengan kalimat shadaqallahul ‘azhim dan kembali bertanya pada emak. "Mak..." panggilku pada emak yang ternyata sudah tertidur pulas bersama adik kecilku. Tak sampai hati aku untuk membangunkan emak yang terlihat sangat letih malam itu, akhirnya kuputuskan untuk sholat terawih saja di masjid. Meski aku kelaparan, tapi ibadah tetap harus di jalankan, bukan alasan.

Aku pun berjalan ke arah masjid dengan langkah yang tak kalah semangat seperti sebelumnya. Ku berlari dengan kedua kaki kecilku sambil menenteng sarung pemberian almarhum ayahku 2 tahun lalu. Saat ku menyusuri jalan menuju ke masjid, aku bertemu dengan pemuda yang nampaknya dari kerumunan yang sama seperti yang kutemui saat membeli kolak. 

"Bade tarawehan dimana cep? (Mau solat terawih dimana dik?)" tanya pemuda itu padaku. "Di masjid itu a, anu alit palih ditu, (Di masjid kak, yang kecil di sebelah sana,)" jawabku sambil terburu-buru karena tak mau ketinggalan sholat berjamaah isya. "Di Masjid Unpad we atuh cep, aya kaemaman sakantenan diditu mah, seueuran deuih resep cep (Di masjid unpad saja dik, ada makanan juga kalau di sana, banyak orang pula pasti seru,)" ajak pemuda tersebut padaku. "Moal ah a, di masjid anu biasa we (Enggak deh kak, di Masjid yang biasa saja,)"  tolakku pada pemuda tersebut.

Aku pun berlari meniggalkan pemuda tersebut yang tampak kebingungan denganku. Bisa saja aku pergi ke masjid unpad dan mendapatkan makanan untuk menghapuskan rasa laparku. Tapi bukan itu tujuanku pergi ke masjid, untuk solat! Tidak lebih tidak kurang! Urusan makan itu perkara lain, aku heran dengan pemuda-pemudi itu yang hanya pergi ke masjid untuk mendapat makanan. Kenapa tak pergi ke rumah makan sekalian? Atau sekalian saja sholat terawih di rumah makan?

Entah apa yang salah dengan muda-mudi itu, tapi yang jelas itu bukan urusanku. Urusanku adalah urusanku dengan Tuhanku, yang ku tahu pergi ke masjid itu untuk menghadap tuhan bukan untuk mendapat makanan. Ah sudahlah dari pada memikirkan hal yang bukan dan tak akan menjadi urusanku, lebih baik aku pergi terawih saja.

Monday, July 7, 2014

Empat Lapan Lima Sembilan

Ada ungkapan kalau hidup itu seperti matematika, semuanya soal angka dan perhitungan. Hidup itungan, nanti setelah mati juga soal hitungan, setiap amalan akan dihitung dan dipertanggungajawabkan nantinya. Kita makan di warteg habis makan dihitung, kita bertanya berapa mbak/mas? mbak/masnya malah berhitung? kita jawab tahu dijawab 4.000! kita bilang lagi tempe dijawab 5.000! tambah telor dijawab 8.000, kita bilang es teh manis dijawab 11.500! Benar kan? Hidup itu itung-itungan, seperti matematika.

Apakah cinta juga persoalan hitung-hitungan yang bisa diselesaikan dengan berbagai rumus dan rumusan? Mungkin buat sebagian yang percaya akan numerologi ataupun kelewat keasikan dengan rumus matematikanya akan percaya, tapi tidak buatku. Angka-angka tersebut tak lebih dari sekadar angka yang muncul karena apa yang telah kulakukan dan kulalui dalam pencarian cinta dalam hidupku. Kuakui beberapa dari angka tersebut saat kuingat artinya hanya membuatku tertawa, tertawa pada hal yang terjadi pada diriku meski ku tahu itu tidak lucu. Tidak lucu memang, karena itu menyedihkan sampai-sampai tak ada lagi yang bisa ditangisi darinya.

Kenapa kubilang menyedihkan? Jelas saja dari 12 kali aku berusaha untuk membuat hubungan yang sering dibilang orang 'pacaran' hanya empat kali saja aku berhasil sampai di sana. Sisanya? Bisa anda tebak sendiri, 8 kali sudah aku mendengar kata tidak dari 8 wanita berbeda. Hal ini sempat membuat aku berfikir sejenak dan berhitung. "Banyak juga wanita yang menolak diriku yang tak terlalu tampan ini," ucapku dalam hati. Ya, memang banyak tapi mau bagaimana lagi? Toh itu kenyataannya.

Pernah ku dengar kalau perbandingan wanita dan pria itu adalah 1:10. Jika ini berarti jumlah wanita yang bisa ditembak seorang pria itu sebanyak 10 wanita, aku berarti sudah lebih dua? Kalau ini berarti jatah ditolak seseorang adalah 10 kali, berarti aku tinggal punya 2 kesempatan lagi? Jika dalam percobaan selanjutnya aku mendapati sebuah kegagalan lagi, berarti? Aku tinggal punya 1 kesempatan lagi? Jika di kemudian hari aku gagal lagi berarti aku sudah dipastikan jomblo seumur hidup? Atau dipaksa mencari pasangan dari kaum yang memiliki jenis kelamin sama denganku? Kenapa bisa sepelik ini? Apa aku tidak pernah berhitung sebelumnya sebelum mencoba bercinta?

Kalau dipikir seperti itu pusing jadinya sodara-sodara ku baik yang seiman maupun tidak seiman. Kubilang hidup soal hitung-hitungan memang benar adanya, tapi nampaknya soal cinta tidak seperti itu. Bila aku berfikir serumit itu yang ada aku jadi jomblo hakiki pada akhirnya. Aku lebih baik membiarkan angka-angka itu terus bertambah dan menjadi pengingat, karena buatku hidup yang baik adalah hidup yang bisa terus kita ingat, terlepas dari baik ataupun buruknya hal tersebut.

Bisa saja aku tidak pernah mencoba dan mencoba membunuh rasa penasaran dan cintaku dengan perlahan agar angka-angka tersebut tidak pernah muncul dalam hidupku, hanya membiarkan angka 0 yang menjadi pengingatku. Namun apakah itu pilihan yang aku pilih? tidak, jelas tidak. Apa yang bisa kita ingat dari angka 0 selain jika anda penjaga gawang sebuah tim sepak bola dan membuat tim yang menjadi lawan anda menelan angka tersebut setelah pertandingan? Tidak ada, 0 dan angka-angka kecil lainnya tak berarti buatku, semakin besar angkanya semakin kita ingat artinya.

Mungkin aku lelah dengan 8 kali penolakan, tapi aku akan jauh lebih lelah jika memaksa diriku menikmati kesendirian. Angka-angka tersebut akan terus bertambah pada akhirnya, dan tidak ada yang tahu angka mana yang akan kucapai selanjutnya. Tapi jika aku bisa memilih, aku lebih suka angka 5 dibanding angka 9.